English
Indonesia

Pasar Seni Global Tembus Rp 935 Triliun: Transaksi Fisik Didominasi Perburuan Karya Ultra-High-End

Friday, 14 Aug 2026 05:18 WIB

Pengunjung mengapresiasi pameran instalasi seni rupa fisik berskala besar di dalam aula utama Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía yang terletak di Madrid, Spanyol. (Sumber Foto: riciardus/PxHere Public Domain)
Pengunjung mengapresiasi pameran instalasi seni rupa fisik berskala besar di dalam aula utama Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía yang terletak di Madrid, Spanyol. (Sumber Foto: riciardus/PxHere Public Domain)

BALI - Pasar seni rupa global dilaporkan mulai keluar dari fase kontraksi ekonomi dengan mencatat pertumbuhan penjualan yang selektif. Mengutip laporan bertajuk Art Basel and UBS Global Art Market Report 2026 yang resmi dipublikasikan pada 12 Maret 2026 lalu dan dilansiroleh Kontan.co.id, total penjualan seni dunia berhasil menyentuh angka US$ 59,6 miliar atau sekitar Rp 935,7 triliun, naik 4% secara tahunan.

Melalui laporan jurnalis Kontan, Nina Dwiantika, dinamika pasar saat ini menandai titik balik penting di mana perputaran modal besar kembali berpusat pada ruang pameran fisik. Namun, fenomena transaksi tatap muka ini tidak terjadi di semua lini, melainkan didominasi hampir sepenuhnya oleh para kolektor papan atas yang memburu karya seni kelas premium.

Karya Ultra-High-End Jadi Motor Utama Transaksi Fisik

Berdasarkan data yang dihimpun Kontan, pemulihan pasar ini menunjukkan polarisasi yang tajam dan sangat bertumpu pada segmen ultra-high-end. Aktivitas fisik di rumah lelang publik internasional mencatat lonjakan tajam sebesar 9% dengan nilai transaksi mencapai US$ 20,7 miliar (sekitar Rp 325 triliun). Secara spesifik, gairah pasar konvensional ini digerakkan oleh perburuan karya langka dengan harga di atas US$ 10 juta (sekitar Rp 157 miliar) yang meroket hingga 30%.

Sebaliknya, transaksi yang dilakukan secara daring (online) justru mengalami penurunan sebesar 11% menjadi US$ 9,2 miliar (sekitar Rp 144,4 triliun) - titik terendah sejak 2019. Dalam rilis resmi laporan tersebut, pendiri Arts Economics, Clare McAndrew, menjelaskan bahwa kemerosotan digital ini terjadi karena transaksi bernilai tinggi (ultra-high-end) kini telah beralih kembali secara langsung ke ruang-ruang fisik di galeri maupun rumah lelang papan atas. Kembalinya minat pada transaksi fisik khusus di kelas premium ini menandakan kejenuhan kolektor terhadap platform layar gawai. Para kolektor kelas dunia menyadari bahwa nilai esensial, detail tekstur, skala, dan keintiman sebuah mahakarya ultra-high-end bernilai ratusan miliar rupiah hanya dapat dipindai dan divalidasi secara utuh melalui kehadiran langsung di dunia nyata.

Di sektor distribusi, galeri privat dan dealer independen masih menjadi pilar utama dengan total kontribusi sebesar US$ 34,8 miliar (sekitar Rp 546,4 triliun). Dari jumlah tersebut, partisipasi langsung dalam pameran seni internasional (art fair) menyumbang porsi besar hingga 35% dari total omzet para dealer. Senada dengan tren tersebut, CEO Art Basel, Noah Horowitz, lewat pernyataan resminya menyebut periode ini sebagai titik perubahan strategis karena dealer dan galeri mulai memperkuat hubungan fisik secara langsung dengan jaringan kolektor utama mereka. Sementara itu, penjualan privat melalui rumah lelang justru mengalami penurunan sekitar 5% menjadi sedikit di bawah US$ 4,2 miliar (sekitar Rp 65,9 triliun).

Peta Kekuatan Barat Masih Mendominasi

Melihat konstelasi geografisnya, aliran modal di pasar seni dunia nyatanya masih berputar di lingkaran negara-negara mapan. Amerika Serikat belum tergoyahkan di posisi puncak dengan menggenggam 44% pangsa pasar, atau setara dengan nilai transaksi fantastis sebesar US$ 26 miliar (sekitar Rp 408,2 triliun).

Inggris membuntuti di peringkat kedua lewat perolehan US$ 10,5 miliar (sekitar Rp 164,8 triliun). Sementara itu di daratan Eropa, Prancis menunjukkan performa luar biasa dengan lonjakan penjualan hingga 9% yang menyentuh angka US$ 4,5 miliar (sekitar Rp 70,7 triliun). Jika diakumulasikan bersama China, tiga kekuatan besar dunia ini menguasai hingga 76% dari total nilai transaksi seni global.

Sinyal Pengaruh Asia Pasifik yang Kian Menguat

Satu fenomena yang paling mencuri perhatian dalam lanskap baru ini adalah bertumbuhnya pengaruh kawasan Asia Pasifik di kancah internasional. Di tengah guncangan ekonomi domestik akibat krisis sektor properti dan melemahnya daya beli konsumen lokal, pasar seni China menunjukkan daya tahan yang mengagumkan dengan tetap mengamankan transaksi sebesar US$ 8,5 miliar (sekitar Rp 133,4 triliun). Peran Hong Kong sebagai episentrum dan gerbang utama ekosistem seni di Asia pun dilaporkan tetap kokoh. Menariknya, dominasi Asia kini tidak lagi menjadi panggung tunggal bagi China. Singapura mulai mencuat ke permukaan sebagai kekuatan baru yang sangat diperhitungkan. Negara singa ini perlahan bertransformasi menjadi magnet regional baru yang strategis, mengonfirmasi adanya pergeseran serta pemerataan distribusi modal kolektor di Asia Tenggara. Bergesernya preferensi kolektor ke Asia Pasifik mengindikasikan bahwa kawasan ini memiliki fondasi kolektor aktif yang sangat solid di tengah ketidakpastian global.

Optimisme Pasar di Tengah Bayang Geopolitik

Laporan berkala hasil kolaborasi global ini juga memaparkan bahwa menyongsong periode ke depan, sekitar 43% dealer merasa optimistis penjualan akan meningkat, dan 38% memproyeksikan pasar bergerak stabil. Kendati demikian, fragmentasi perdagangan, isu proteksionisme, serta ketidakpastian geopolitik makro tetap menjadi faktor eksternal utama yang diantisipasi oleh para pelaku pasar global. 

(AM/INV)

Comments

Comments

Art world stories, curated by Lanö

Discover exclusive artworks, exhibitions & fine art prints from selected artists worldwide.

LanöLanö Gallery